Peran Ayah Dalam Perkembangan Anak Laki Laki

Peran Ayah Dalam Perkembangan Anak Laki Laki

Peran Ayah Dalam Perkembangan Anak Laki Laki – Sebelumnya, analisis bahwa ayah hanya bertugas sebagai pencari nafkah dan anak-anak adalah urusan ibu adalah perihal usang. Pada zaman sekarang, baik ayah maupun ibu mempunyai peran yang setara dan sebanding dalam tumbuh kembang anak yang optimal.

Perubahan berkenaan Peran Ayah Dalam Perkembangan Anak Laki Laki ini diamini oleh Agustina, M.Psi., Psikolog berasal dari PBKP Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara.

“Ada sebagian perbedaan. Sebenarnya, ayah di zaman dulu mempunyai selagi yang lebih panjang berada di tempat tinggal dibandingkan ayah di zaman sekarang. Misalnya, selagi yang dibutuhkan untuk perjalanan berasal dari tempat tinggal ke kantor dan sebaliknya, lebih pendek dibandingkan zaman sekarang. Hal ini dikarenakan zaman saat ini jumlah kendaraan lebih banyak supaya berlangsung kemacetan dan mengambil selagi yang mestinya telah tiba di tempat tinggal jadi tidak.”

Akan tetapi, lanjut Agustina, selagi ini telah berlangsung peningkatan mutu pendidikan. “Ayah zaman saat ini lebih berpendidikan dan lebih tahu bagaimana peran ayah dalam tumbuh kembang anak serta cara-cara untuk menambah mutu dalam mendidik anak.” Terlepas berasal dari perbedaan zaman, Agustina mengakui bahwa ayah dan ibu mempunyai peran yang serupa terhadap tumbuh kembang anak.

Inilah Peran Ayah Dalam Perkembangan Anak Laki Laki

Bicara soal peran ayah dalam tumbuh kembang anak, bagi Agustina, tidak ada perbedaan vital pada anak perempuan dan anak laki-laki. “Tidak ada peran tertentu ayah tentang bersama dengan jenis kelamin anak. Namun, mampu dikatakan bahwa ayah mampu berperan untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak lewat kesibukan bermain yang melibatkan motorik kasar.”

Peran ayah dalam tumbuh kembang anak yang tak kalah perlu adalah mengajarkan rasa tanggung jawab terhadap anak lewat kesibukan sehari-hari anak dan menopang anak dalam mengontrol emosi dan pengekspresian emosi. “Di sisi lain, terhadap anak laki-laki, ayah mampu mengajarkan berkenaan peran gender terhadap anak laki-laki. Sebut saja bagaimana anak laki-laki perlu bertindak dan berinteraksi di lingkungan cocok bersama dengan jenis kelaminnya.”

Lantas, apa saja bentuk perhatian yang perlu diberikan ayah kepada anak meski ia repot bekerja. Apakah perihal sesederhana menanyakan, “Bagaimana harimu hari ini, Nak?” dapat memicu perubahan besar dalam tumbuh kembang anak?

Agustina pun mengiakan. “Sesibuk apa pun seorang ayah, anak selalu perlu dukungan, perhatian, dan kasih sayang berasal dari ayahnya.”

Oleh dikarenakan itu, jangan lupa menanyakan bagaimana anak meniti harinya di sekolah. Pasalnya, pertalian semacam ini dapat memicu kapabilitas akademis anak jadi lebih baik. Selain ucapan verbal, ayah juga mampu mengimbuhkan bentuk perhatian bersifat belaian sayang terhadap anak, pelukan, dan penghargaan bersifat pujian terhadap anak selagi berhasil capai suatu hal atau selagi anak telah tunjukkan bisnis yang baik.

“Ayah perlu menyempatkan diri tunjukkan kasih sayang bersama dengan membelai dan memeluk anak serta menyempatkan selagi untuk mampu makan malam bersama dengan dan berdoa bersama dengan setiap malam.”

Pasalnya, lewat makan malam bersama, tambahnya, anak mampu merasakan kehangatan dan kedekatan di pada bagian keluarga. Selain itu, momen ini mampu juga dijadikan ajang mengobrol antar bagian keluarga berkenaan kesibukan masing-masing di hari itu.

Lalu, apa yang perlu dijalankan ayah untuk menyeimbangkan kesibukan pekerjaan dan mengimbuhkan perhatian untuk buah hati? “Pertama, menyempatkan diri untuk mengambil cuti sebagian hari di selagi anak libur sekolah dan menggunakan selagi untuk berinteraksi secara intensif bersama dengan anak. Kedua, menanyakan berkenaan kesibukan sehari-hari anak setiba berasal dari kantor.”

Ibu, dalam perihal ini, juga mampu menopang peran ayah dalam tumbuh kembang anak. “Mendukung setiap bentuk atau bisnis yang ditunjukkan oleh ayah untuk anak. Jangan sampai perihal yang diterapkan oleh ayah berlawanan atau berbeda bersama dengan yang diterapkan oleh ibu,” ucap psikolog yang berpraktik di Little Shine Pre-School ini.

Sebagaimana dinyatakan dalam ‘Nurturing Care Framework’ (World Health Organization, 2018), orang tua dan pengasuh anak adalah peran yang paling perlu dalam fase tumbuh kembang anak. Meski perempuan, secara historis telah mengambil peran sebagai pengasuh utama anak, tapi menurut ‘Nurturing Care Framework’ tunjukkan perlunya pertolongan serta andil seorang ayah dalam pengasuhan anak. Karena dalam praktiknya, keterlibatan laki-laki atau ayah dalam pengasuhan anak walau meningkat, tetap terbatas di seluruh dunia. Padahal, sosok ayah mempunyai pengaruh yang dalam dan bertahan lama terhadap sistem pertumbuhan anak-anak. Penelitian psikologis di seluruh keluarga berasal dari seluruh latar belakang etnis menunjukkan, bahwa kasih sayang ayah dan keterlibatan ayah dalam keluarga menopang mendorong pertumbuhan sosial dan emosional anak-anak. Ayah juga berperan dalam pembentukan cii-ciri anak.

Ayah Wajib Hadir untuk Mendukung Tumbuh Kembang Anak

Berdasarkan information berasal dari Child & Family Research Partnership – The University of Texas at Austin – LBJ School of Public Affair, ada sebagian perihal yang berlangsung terhadap anak, dikala ayah terlibat dalam tumbuh kembangnya. Anak yang diasuh oleh kedua orang tuanya akan:

39% cenderung lebih banyak mendapat peringkat A di sekolah.
45% lebih kecil barangkali tinggal kelas.
60% lebih kecil kemungkinannya dihukum atau dikeluarkan berasal dari sekolah.
2 kali lebih besar kemungkinannya melanjutkan kuliah, dan menemukan pekerjaan selalu setelahnya.
75% lebih kecil kemungkinannya hamil di umur dini.
80% lebih kecil barangkali masuk penjara.
Selain itu, Pritta Tyas Mangestuti, M.Psi, psikolog klinis dan pendiri Sekolah Bumi Nusantara Montessori, menjelaskan, pentingnya peran ayah dalam pendidikan dan pengasuhan anak, sebagai berikut:

1. Perkembangan Emosional Anak

Seperti ibu, ayah adalah pilar dalam pertumbuhan emosional anak. Anak-anak memandang ayah sebagai pembuat peraturan dan menegakkannya. Mereka juga melacak ayah dikala perlu perasaan aman, baik fisik maupun emosional. Anak-anak idamkan memicu ayahnya bangga dapat hal-hal yang telah mereka lakukan. Peran ayah yang terlibat dalam tumbuh kembang anak turut menumbuhkan kapabilitas berasal dari dalam diri anak tersebut. Penelitian menunjukkan, ayah yang penuh kasih sayang dan suportif, amat memengaruhi pertumbuhan kognitif dan sosial anak. Ini juga menanamkan rasa kesejahteraan dan kepercayaan diri secara keseluruhan dalam diri anak.

2. Ayah Memengaruhi Standar Anak dalam Hubungannya bersama dengan Orang Lain

Cara seorang ayah dalam memperlakukan anaknya dapat memengaruhi apa yang anak cari terhadap orang lain. Teman, pasangan, semuanya dapat dipilih berdasarkan terhadap bagaimana si anak tahu arti pertalian bersama dengan ayahnya. Pola-pola yang ditetapkan ayah dalam pertalian bersama dengan anak-anaknya dapat menentukan bagaimana anak-anaknya berhubungan bersama dengan orang lain.

3. Peran Ayah terhadap Anak Perempuan

Anak perempuan tergantung terhadap ayahnya untuk rasa safe dan pertolongan emosional. Karakter seorang ayah dapat jadi sebuah ‘panduan’ terhadap anak perempuannya untuk tunjukkan layaknya apa pertalian yang baik bersama dengan laki-laki kelak di jaman depannya. Jika cii-ciri ayah terlihat penuh kasih dan lembut, maka anak perempuannya dapat melacak sifat-sifat itu terhadap laki-laki dikala ia cukup umur untuk merasa berkencan. Jika cii-ciri sang ayah adalah kuat dan gagah, anak perempuannya dapat berhubungan dekat terhadap laki-laki bersama dengan cii-ciri yang sama.

4. Peran Ayah terhadap Anak Laki-laki

Tidak layaknya anak perempuan, yang memicu jenis pertalian mereka bersama dengan orang lain berdasarkan cii-ciri ayahnya, anak laki-laki mencontohkan cii-ciri ayah mereka untuk diterapkan terhadap dirinya sendiri. “Sebagai manusia, kami tumbuh bersama dengan menyontoh prilaku orang-orang di kira-kira kita. Anak laki-laki dapat menghendaki persetujuan berasal dari ayah mereka sejak umur amat muda,” tahu Pritta. Jika anak diasuh oleh ayah yang acuhkan dan memperlakukan orang lain bersama dengan hormat, maka anak laki-lakinya dapat tumbuh bersama dengan cii-ciri yang sama. Ketika sosok ayah tidak ada, maka anak laki-laki dapat melacak figur laki-laki lain untuk memutuskan “aturan” berkenaan bagaimana berperilaku dan bertahan hidup di dunia.

Tantangan Baru Para Ayah di Masa Pandemi

Kini, peran ayah makin menantang. Pritta mengatakan, dalam sistem pembelajaran online atau School from Home (SFH), kolaborasi peran pada ayah dan ibu dalam pengasuhan anak, jadi amat penting. “Hal ini dikarenakan pendampingan dalam pendidikan dan pengasuhan terhadap anak, khususnya terhadap kondisi layaknya ini perlu fokus yang lebih dibandingkan bersama dengan kondisi sebelumnya. Maka berasal dari itu, ayah dan ibu perlu melakukan kolaborasi yang setara dalam mengasuh anak-anaknya,” tahu Pritta. Selain mendampingi anak untuk SFH layaknya yang dijelaskan Pritta, pandemi Covid-19 baru-baru ini mengimbuhkan ‘tugas’ ayah di keluarga. Menurut Richard Juman, PsyD, TeamHealth National Director of Psychological Services, di jaman pandemi ini, ayah diharapkan mampu memikirkan sebagian isu berikut:

Akankah seluruh keluarga selalu aman?
Akankah penghasilan aku selalu stabil?
Bagaimana hal-hal dapat beralih dalam jangka panjang?
Dan kemudian, terhadap isu keluarga yang paling menonjol atau terlihat, banyak ayah telah mengambil peran baru. Bukan hanya sebagai homeschooler, tapi juga ‘tempat’ curhat, kawan bermain, sampai konselor. Richard menambahkan, pandemi telah mengungkap begitu banyak kasus perlu dan eksistensial. “Jelas, menjaga keamanan anak-anak mereka adalah prioritas no satu, tapi kegentingan yang diakibatkan virus ini tampaknya juga telah menambah intensitas pertalian para ayah bersama dengan anak-anak mereka.” Richard berikan contoh, pembicaraan enjoy berkenaan olahraga, selebriti, atau hiburan telah jadi kesempatan untuk membicarakan kasus yang lebih besar dan berat pada anak bersama dengan ayah. Menurut Richard, perihal tersebut membuktikan, bahwa ada kesempatan untuk mengajari anak-anak langkah menanggulangi kasus yang besar dan menakutkan di jaman pandemi ini. “Bagi banyak orang, intensitas momen dicerminkan oleh tingkat perasaan dan kedekatan yang meningkat. Ini mengimbuhkan kesempatan emas untuk mendiskusikan kasus penting, dan share perasaan, yang barangkali tidak dapat dulu disinggung,” tahu Richard terhadap teamhealth.com. Tentunya, pembicaraan atau diskusi tersebut mampu jadi ‘bekal’ bermanfaat bagi anak untuk jaman depannya kelak.