Muamalah Pengertian Ekonomi

Muamalah Pengertian Ekonomi

Muamalah Pengertian EkonomiDalam dunia ekonomi syariah, arti muamalah sering kali digunakan sebagai basic – basic hukum di dalam berbisnis. Muamalah Pengertian Ekonomi merupakan hukum islam yang didapatkan berasal dari pengkajian beraneka macam sumber hukum-hukum islam seperti Al-Qur’an dan hadist. Penerapan mauamalah biasanya dilaksanakan di beraneka bidang usaha seperti perbankan syariah, koperasi syariah, dan perusahaan-perusahaan yang menerapkan prinsip syariah.

Muamalah adalah sebuah jalinan manusia di dalam jalinan sosial cocok syariat,karena manusia merupakan makhluk sosial yang tidak mampu hidup berdiri sendiri. Dalam jalinan dengan manusia lainnya, manusia dibatasi oleh syariat tersebut, yang terdiri berasal dari hak dan kewajiban. Lebih jauh kembali jalinan pada manusia berikut bakal perlu kesepakatan demi kemaslahatan bersama. Dalam arti luas muamalah merupakan aturan Allah untuk manusia untuk bergaul dengan manusia lainnya di dalam berinteraksi. Sedangkan di dalam arti spesifik muamalah adalah aturan berasal dari Allah dengan manusia lain di dalam perihal mengambangan harta benda.

Muamalah merupakan cabang ilmu syari’ah di dalam cakupan ilmu fiqih. Sedangkan muamalah mempunyai banyak cabang, diantaranya muamalah politik, ekonomi, sosial. Secara umum muamalah mencakup dua aspek, yakni faktor adabiyah dan madaniyah. Aspek adabiyah yakni kegiatan muamalah yang terjalin dengan kegiatan adab dan akhlak, contohnya menjunjung sesama, kejujuran, saling meridhoi, kesopanan, dan sebagainya. Sedangkan faktor madaniyah adalah faktor yang terjalin dengan kebendaan, seperti halal haram, syubhat, kemudharatan, dan lainnya.

Kata muamalah pada dasarnya berasal berasal dari bhs arab yakni berasal dari kata aamala, muamalat ataupun yuamilu yang miliki arti tabiat ataupun perbuatan. Jika disimpulkan berasal dari arti kata dasarnya, maka muamalah mampu disimpulkan sebagai aturan berkenaan tiap-tiap amal ataupun tabiat jalinan satu manusia dengan manusia lainnya yang saling berkepentingan.

Menurut ilmu Fikih, muamalah merupakan tiap-tiap kegiatan saling pindah product (baik barang maupun jasa) yang mampu membuahkan faedah kepada ke dua belah pihak (pemilik barang yang lakukan pertukaran), yang dilaksanakan dengan cara ataupun metode spesifik yang telah ditentukan sebelumnya. Muamalah secara luas disimpulkan sebagai sebuah aturan mengikat (yang disertai dengan ancaman sangsi) yang menyesuaikan jalinan antar manusia, manusia dengan kehidupannya, dan manusia dengan lingkungan sekitarnya.

Penggunaan mualah di dalam pengaturan jalinan manusia ditujukan supaya tiap-tiap jalinan yang berjalan mampu saling beruntung dan tidak timpang (tidak hanya beruntung sebelah pihak saja).

Pengertian Muamalah Menurut Para Ahli

Berikut merupakan beberapa pengertian arti muamalah yang diungkapkan oleh para ahli :

Idris Ahmad

Menurut Idris Ahmad, muamalah merupakan aturan Allah SWT yang paling baik dipakai di dalam memenuhi tiap-tiap kepentingan jasmaniah pada satu manusia dengan manusia yang lainnya.

Al – Dimyati

Menurut Al – Dimnyati, muamalah membuahkan duniawi supaya jadi karena suksesnya aukhrawi.

Ust. Rasyid Ridho

Menurut ust. Rasyid Ridho, pengertian muamalah adalah kegiatan pindah menggantikan barang atau jasa dengan aturan yang telah ditentukan sebelumnya.

Muhammad Yusuf Musa

Menurut Muhammad Yusuf Musa, muamalah merupakan tiap-tiap aturan Allah SWT yang wajib ditaati dan diikuti di dalam kehidupan bermasyarakat dengan tujuan untuk menjaga dan menjaga kepentingan manusia.

Louis Ma’luf

Menurut Louis Ma’luf, muamalah merupakan hukum-hukum syara’ yang berkenaan dengan urusan duniawi dan kehidupan manusia yang meliputi perdagangan, menjual – beli, dan beraneka kegiatan usaha lainnya.

Hudlari

Menurut Huldlari, pengertian muamalah adalah setiaap akad yang memperbolehkan manusia untuk saling bertukar manfaat.

Ahmad Ibrahim Bek

Menurut Ahmad Ibrahim bek, muamalah merupakan tiap-tiap aturan yang berisi segala perihal yang berkenaan dengan urusan dunia dan tiap-tiap perihal berkenaan kebendaan, perkawinan, dan talak yang ditetapkan dengan mengikuti dasar- basic secara umum dan terperinci untuk dijadikan wejangan bagi manusia di dalam bertukar manfaat.

Mengenal Muamalah

Bagian berasal dari hukum Islam yang menyesuaikan jalinan pada seseorang dan orang lain, baik seseorang itu privat spesifik maupun berbentuk badan hukum, seperti perseroan, firma, yayasan dan negara. Badan hukum ini di dalam hukum Islam disebut dengan nama asy-Syakhisiyyah al-I’tibariyyah. Contoh berasal dari hukum Islam yang terjalin dengan muamalah ini adalah menjual beli, sewa menyewa, dan perserikatan.

Pada awal munculnya, bidang bahasan fikih oleh para fukaha (ahli fikih) dibagi di dalam tiga anggota besar, yakni akidah, ibadah dan muamalah. Akidah mengandung keyakinan kepada Allah SWT, rasul, malaikat dan hari kiamat dan sebagainya yang berkenaan dengan keimanan.

Bidang ibadah mengandung permasalahan yang menyangkut jalinan manusia dengan Tuhannya, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Sedangkan bidang muamalah adalah yang berkenaan dengan jalinan manusia dengan sesamanya di dalam masyarakat.

Dalam bidang Muamalah Pengertian Ekonomi ini, pada mulanya terhitung tercakup kasus keluarga, seperti perkawinan dan perceraian. Akan tetapi, sesudah terjadinya disintegrasi di dunia Islam, khususnya di zaman Turki Ustmani, maka terjadilah pertumbuhan pembagian fikih baru.

Bidang muamalah cakupannya dipersempit, supaya masalah-masalah yang terjalin dengan hukum keluarga tak masuk kembali di dalam pengertian muamalah. Muamalah tinggal menyesuaikan permasalahan yang menyangkut jalinan seseorang dengan seseorang lainnya, di dalam bidang ekonomi (seperti menjual beli, sewa menyewa dan pinjam meminjam). Fikih muamalah di dalam perkembangannya disebut terhitung fiqh al-mu’awadah.

Dalam fikih muamalah, ada beberapa prinsip yang wajib diperhatikan. Misalnya, di dalam lakukan hak dan bertindak, tindakan berikut tidak boleh mengakibatkan kerugian pada orang lain. Setiap orang yang lakukan tindakan yang merugikan orang lain, samasekali tidak disengaja, bakal diminta pertanggungjawabannya.

Pada tiap-tiap transaksi, terdapat beberapa prinsip basic yang ditetapkan syarak. Pertama, tiap-tiap transaksi pada dasarnya mengikat orang (pihak) yang bertransaksi, kalau transaksi yang jelas-jelas melanggar aturan syariat. Kedua, syarat-syarat transaksi itu dirancang dan dilaksanakan secara bebas tetapi bertanggungjawab.

Ketiga, tiap-tiap transaksi dilaksanakan secara sukarela, tanpa ada paksaan berasal dari pihak manapun. Dan keempat, syari’ (pembuat hukum) mewajibkan supaya tiap-tiap perencanaan transaksi dan pelaksanaannya didasarkan atas niat baik, supaya segala bentuk penipuan dan kecurangan, mampu dihindari.

Ekonomi Syariah

Ekonomi Syariah adalah suatu cabang ilmu ilmu yang berusaha untuk memandang, menganalisis, dan akhirnya menyelesaikan permasalahan-permasalahan ekonomi dengan cara-cara Islam, yakni berdasarkan atas ajaran agama Islam, yakni Al Qur’an dan Sunnah Nabi (P3EI, 2012:17).
Ekonomi syariah miliki dua perihal pokok yang jadi landasan hukum sistem ekonomi syariah yakni Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah, hukum-hukum yang diambil berasal dari ke dua landasan pokok berikut secara konsep dan prinsip adalah selamanya (tidak mampu beralih kapanpun dan di mana saja).

Berikut ini beberapa Muamalah Pengertian Ekonomi berasal dari beberapa sumber buku:

Menurut Monzer Kahf di dalam bukunya The Islamic Economy menyatakan bahwa ekonomi Islam adalah anggota berasal dari ilmu ekonomi yang berbentuk interdisipliner di dalam arti kajian ekonomi syariah tidak mampu berdiri sendiri, tetapi wajib penguasaan yang baik dan mendalam pada ilmu-ilmu syariah dan ilmu-ilmu pendukungnya terhitung pada ilmu-ilmu yang berguna sebagai tool of analysis seperti matematika, statistik, logika dan ushul fiqih (Rianto dan Amalia, 2010:7).
M.A. Mannan mendeskripsikan ilmu ekonomi syariah sebagai suatu ilmu ilmu sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilai islam (Mannan, 1992:15).

Definisi ekonomi syariah berdasarkan pendapat Muhammad Abdullah Al-Arabi (1980:11), Ekonomi Syariah merupakan sekumpulan dasar-dasar umum ekonomi yang kita simpulkan berasal dari Al Qur’an dan As-sunnah, dan merupakan bangunan perekonomian yang kita dirikan di atas landasan dasar-dasar berikut cocok dengan tiap lingkungan dan masa.

Tujuan Ekonomi Syariah.

Tujuan Ekonomi Syariah seirama dengan tujuan berasal dari syariat Islam itu sendiri (maqashid asy syari’ah), yakni raih kebahagiaan di dunia dan akhirat (falah) lewat suatu tata kehidupan yang baik dan terhormat (hayyah thayyibah). Tujuan falah yang menginginkan dicapai oleh Ekonomi Syariah meliputi faktor mikro ataupun makro, mencakup horizon selagi dunia atau pun akhirat (P3EI, 2012:54).
Seorang fuqaha asal Mesir bernama Prof. Muhammad Abu Zahrah menyatakan ada tiga sasaran hukum Islam yang membuktikan bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat bagi semua umat manusia, yakni (Rahman, 1995:84):
Penyucian jiwa supaya tiap-tiap muslim mampu jadi sumber kebaikan bagi penduduk dan lingkungannya.
Tegaknya keadilan di dalam masyarakat. Keadilan yang dimaksud mencakup faktor kehidupan di bidang hukum dan muamalah.
Tercapainya maslahah (merupakan puncaknya). Para ulama menyepakati bahwa maslahah yang menjad puncak sasaran di atas mencakup lima jaminan dasar, yaitu: keselamatan keyakinan agama (al din), kesalamatan jiwa (al nafs), keselamatan akal (al aql), keselamatan keluarga dan keturunan (al nasl) dan keselamatan harta benda (al mal).

Prinsip-prinsip Ekonomi Syariah

Pelaksanaan ekonomi syariah wajib mobilisasi prinsip-prinsip sebagai berikut (Sudarsono, 2002:105):
Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan berasal dari Allah swt kepada manusia.
Islam mengakui pemilikan privat di dalam batas-batas tertentu.
Kekuatan penggerak utama Ekonomi Syariah adalah kerja sama.
Ekonomi Syariah menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh segelintir orang saja.
Ekonomi Syariah menanggung pemilikan penduduk dan penggunaannya direncanakan untuk kepentingan banyak orang.
Seorang muslim wajib kuatir kepada Allah swt dan hari penentuan di akhirat nanti.
Zakat wajib dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab).
Islam melarang riba di dalam segala bentuk.

Layaknya sebuah bangunan, sistem Muamalah Pengertian Ekonomi wajib miliki fondasi yang berguna sebagai landasan dan mampu mendukung segala bentuk kegiatan ekonomi guna raih tujuan mulia. Berikut ini merupakan prinsip-prinsip basic di dalam ekonomi syariah, diantaranya adalah (Zainuddin Ali, 2008):
Tidak lakukan penimbunan (Ihtikar). Penimbunan, di dalam bhs Arab disebut dengan al-ihtikar. Secara umum, ihtikar mampu disimpulkan sebagai tindakan pembelian barang dagangan dengan tujuan untuk menghambat atau menaruh barang berikut di dalam jangka selagi yang lama, supaya barang berikut dinyatakan barang langka dan bernilai mahal.
Tidak lakukan monopoli. Monopoli adalah kegiatan menghambat keberadaan barang untuk tidak dijual atau tidak diedarkan di pasar, supaya harganya jadi mahal. Kegiatan monopoli merupakan salah satu perihal yang dilarang di dalam Islam, misalnya monopoli diciptakan secara sengaja dengan cara menimbun barang dan menaikkan harga barang.
Menghindari jual-beli yang diharamkan. Kegiatan jual-beli yang cocok dengan prinsip Islam, adil, halal, dan tidak merugikan salah satu pihak adalah jual-beli yang terlalu diridhai oleh Allah swt. Karena sebenarnya bahwa segala perihal yang mengandung unsur kemungkaran dan kemaksiatan adalah haram hukumnya.

Manfaat Ekonomi Syariah

Apabila mengamalkan Muamalah Pengertian Ekonomi bakal mendatangkan faedah yang besar bagi umat muslim dengan sendirinya, yaitu:
Mewujudkan integritas seorang muslim yang kaffah, supaya islam-nya tidak kembali setengah-setengah. Apabila ditemukan ada umat muslim yang masih bergelut dan mengamalkan ekonomi konvensional, membuktikan bahwa keislamannya belum kaffah
Menerapkan dan mengamalkan ekonomi syariah lewat lembaga keuangan islam, baik berbentuk bank, asuransi, pegadaian, maupun BMT (Baitul Maal wat Tamwil) bakal mendapatkan keuntungan dunia dan akhirat. Keuntungan di dunia diperoleh lewat bagi hasil yang diperoleh, sedangkan keuntungan di akhirat adalah terbebas berasal dari unsur riba yang diharamkan oleh Allah.
Praktik ekonomi berdasarkan syariat islam mengandung nilai ibadah, karena telah mengamalkan syariat Allah.
Mengamalkan ekonomi syariah lewat lembaga keuangan syariah, bermakna mendukung kemajuan lembaga ekonomi umat Islam.
Mengamalkan ekonomi syariah dengan mengakses tabungan, deposito atau jadi nasabah asuransi syariah bermakna mendukung upaya pemberdayaan ekonomi umat. Sebab dana yang terkumpul bakal dihimpun dan disalurkan lewat sektor perdagangan riil.
Mengamalkan ekonomi syariah bermakna ikut mendukung gerakan amar ma’ruf nahi munkar. Sebab dana yang terkumpul pada lembaga keuangan syariah hanya boleh disalurkan kepada usaha-usaha dan proyek yang halal.