Arti Kesuksesan Menurut Islam

Arti Kesuksesan Menurut Islam

Arti Kesuksesan Menurut Islam – Siapa manusia yang tidak ingin keberhasilan didalam hidupnya? Sukses yang terukur dari bermacam macam perihal seperti jabatan, akademik, posisi didalam perusahaan, banyanya harta, keluarga, dan lain sebagainya. Semua perihal tersebut pasti adalah harapan-harapan yang di idamkan oleh tiap tiap orang yang menjadi anggota dari kehidupannya di dunia. Hanya saja standart keberhasilan tersebut masih berkutat di segi individu dan masalah-masalah dunia yang kala saja.

Islam sebagai agama rahmatan lil alamin yang menyesuaikan semua kehidupan manusia pastinya mempunyai standart berkenaan keberhasilan hidup manusia. Standart ini pasti saja berasal dari Info Al-Quran, teladan Rasulullah, sesuai dengan manfaat agama, rukun iman, rukun islam, yang kelanjutannya menghasilkan pandangan berkenaan berhasil Dunia Akhirat menurut Islam.

Manusia yang berhasil didalam islam tidak cuma diukur oleh harta dan posisi atau jabatannya saja melainkan tersedia standart lain yang Allah berikan. Dunia menurut Islam dan harta didalam Islam hanya perihal yang singgah kala supaya ia bukan lah sebagai tujuan. Berikut adalah berhasil menurut islam, sebagaimana disampaikan didalam Al-Quran dan Hadist.

Macam-Macam Arti Kesuksesan Menurut Islam

Sukses, Karena Bermanfaat

“Sebaik-baik Manusia adalah manusia yang memberi tambahan manfaatnya terhadap orang lain” (HR Bukhari)

Islam mengajarkan umatnya untuk bisa menjadi manusia yang berfungsi bagi orang lain. Sebagai seorang yang beriman pastinya perihal ini bukan kembali menjadi suatu yang wajib dipermasalahkan, sebab merupakan keharusan dan kewajiban. Bahkan, memberi tambahan manfaat terhadap manusia yang lain adalah kebutuhan, sebab kami dapat merasakan kebermaknaan kalau apa yang kami mempunyai diberikan untuk menunjang orang lain.

Apalagi kalau seseorang tersebut mempunyai banyak potensi dan segudang kemampuan, pasti saja dapat lebih berarti kalau bisa menunjang orang lain. Berikut adalah hal-hal yang membawa dampak seorang wajib memberi tambahan manfaatnya.

Memberikan kegunaan Kepada Sekitar adalah Kebutuhan
Namun, kerap kali orang-orang lupa terhadap sekitarnya, dan berkutat cuma terhadap persoalan dirinya sendiri. Padahal dibalik usianya yang muda, banyak yang bisa dilakukan untuk memberi tambahan suatu yang berarti di masyarakatnya. Misalnya saja, memberi tambahan barang-barang yang tidak digunakan terhadap orang yang membutuhkan, mengumpulkan uang jajan untuk memberi tambahan dukungan sosial terhadap yang tidak cukup bisa dengan teman-teman, mengajarkan belajar terhadap anak-anak yang tidak cukup mampu, dsb. Daripada uang jajang kami dihamburkan untuk suatu yang sia-sia, mengikuti kesibukan yang tidak bermanfaat, miliki nilai hedonisme semata, lebih baik digunakan untuk perihal yang berfungsi dan berpahala akhirat.

Jika dari muda udah kami merasa untuk berjiwa sosial dan memberi tambahan manfaat, pastinya kala di lantas hari tidak sukar bagi kami untuk selalu memberi tambahan manfaat bagi lingkungan kita. Kita tidak dapat berpikir panjang untuk bisa menunjang sesama, mengangkat kaum yang lemah, dan mengoptimalkan apa yang kami mempunyai baik harta, kemampuan/skill, posisi, ataupun ilmu untuk dimanfaatkan demi kebaikan di masyarakat.

Mencontoh Apa yang Rasul Lakukan adalah Kewajiban
Menjadi seorang muslim yang berfungsi kami bisa mencontoh bagaimana Rasul dan Para Sahabat yang memberi tambahan harta yang dimilikinya, kemampuannya, dan waktunya amat dimanfaatkan untuk kemajuan islam kala itu. Tidak sedikit yang mereka berikan, begitupun manfaat yang dihasilkan bukan cuma kala itu melainkan lintas generasi.

Kita tidak wajib bangga mempunyai bermacam prestasi yang tinggi, penghargaan yang banyak, kecerdasan, harta berlimpah, ilmu yang segudang andai hal-hal tersebut tidak memberi tambahan kebermanfaatan bagi bangsa dan agama.

Itulah ukuran utama keberhasilan kita. Bukan cuma meraih apa yang kami inginkan, meraih impian-impian tertinggimu, tetapi seberapa manfaat yang bisa diberikan dari yang kami bisa capai.

Sukses, Karena Membangun Masyarakat

Jati diri kami sebagai seorang muslim adalah Khalifah fil Ard. Sebagaimana disampaikan oleh Allah melalui QS Al Baqarah : 30, bahwa Allah menciptakan manusia di wajah bumi untuk menjadi Khalifah fil Ard. Khalifah sendiri berarti pemimpin/pengelola. Berati kami mempunyai tugas menjadi seorang pemimpin di wajah bumi kita. Tugas-tugas mengelola penduduk adalah sebagai berikut.

Menjadi Pemimpin

Selayaknya seorang pemimpin, ia mempunyai kewajiban untuk menjadi teladan bagi yang lain, melakukan pembangunan, menjauhkan dan menyelesaikan kerusakan. Ia bertugas untuk mengoptimalkan apa yang dimilikinya untuk melakukan yang paling baik atas amanah yang diembannya. Begitupun sebagaimana manusia menjadi pemimpin di wajah bumi. Dari sini pastinya menjadi pengingat bagi kami bahwa manusia diciptakan bukan untuk main-main atau hanya singgah menikmat apa yang tersedia di dunia, melainkan tersedia misi dari Allah yang udah diamanahkan terhadap kita.

Belajar dan Mempersiapkan Ilmu Pengetahuan

Jika kami adalah pemuda yang masih sekolah ataupun meniti perkuliahan, pastinya suatu kala kelak lulus, pasti ingin karir yang sesuai harapan, tambah meningkat, dan berkembang. Tapi kembali diingat bahwa itu bukanlah ukuran berhasil yang utama. Ukuran yang utama adalah saat dari apa yang kami melakukan didalam karir/profesimu bisa memberi tambahan dampak pembangunan di masyarakat. Tentunya itu lebih berarti dan membanggakan. Sehingga, suatu yang menjadi keahlian didalam karirmu, gunakanlah sebagai layanan kami menjalankan misi yang udah Allah amanahkan, yakni Khalifah di wajah bumi.

Mengoptimalkan Potensi Lewat Karir

Contohnya saja, kalau tersedia seorang dokter maka berkewajiban menghidupkan kesehatan di masyarakat, menunjang kaum yang lemah supaya sehat dan sejahtera hidupnya, meminimalisir kecurangan atau korupsi atau maal praktek didalam kedokteran, mengembangkan ilmu-ilmu kesehatan, dan lain sebagainya. Atau kalau seorang pengusaha, maka bukalah lahan pekerjaan yang banyak dan halal bagi kaum yang membutuhkannya, sebab dengan begitu kami dapat kurangi tingkat pengangguran, tingkat stress masyarakat, atau kurangi kriminialitas.

Setiap profesi atau karir bisa menjadi layanan kami menjalankan misi hidup kita. Ukuran suksesnya bukan kala kami berhasil mencapainya, melainkan atas apa yang kami bangun, kembangkan, dan menyelesaikan masalahnya hingga menjadi sektor penduduk yang lebih baik lagi.

Membangun Lewat Keluarga

Rumah tangga menurut Islam dan kehidupan rumah tangga didalam Islam pastinya juga amat terkait dengan tujuan hidup manusia. Keluarga sakinah didalam Islam dan keluarga selaras menurut Islam adalah anggota dari tugas dan tujuan manusia di wajah bumi. Hal-hal didalam keluarga diukur sebagai Arti Kesuksesan Menurut Islam kalau bisa meraih misi manusia yang sesuai dengan:

  • Tujuan Penciptaan Manusia ,
  • Proses Penciptaan Manusia ,
  • Hakikat Penciptaan Manusia ,
  • Konsep Manusia didalam Islam, dan
  • Hakikat Manusia Menurut Islam

Sukses di Akhirat

“ Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An’Am : 32)

Kehidupan kami di dunia bukanlah apa-apa. Ada Masa Depan Akhirat yang dapat kami menghadapi nantinya. Jika ukuran berhasil kehidupan kami cuma di dunia, tentulah itu bukan berhasil yang sebenarnya. Keselamatan di akhirat lah yang menjadi ukuran utama keberhasilan kita. Dan pastinya dengan berbekal amalan-amalan di dunia lah yang bisa menyelamatkan hidup di akhirat. Kesempatannya cuma kala ini, saat kami masih di dunia. Itulah kelak jaman depan dan keberhasilan yang sesungguhnya. Bukan cuma keberhasilan di mata manusia, melainkan di didalam penilaian Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah tiap tiap diri memperhatikan apa yang udah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al Hasyr : 18)